Thursday, 26 February 2015

~ TERIMALAH TAUBATKU..~













kepala tertunduk lesu
jiwa bergetar luluh pilu
air mata tak mampu terbendung
kala kusebut asmaMu yang agung

Ya Allah
mengapa baru teringat
setelah semua terlanjur
mengapa baru tersedar
setelah semua hancur

terlalu jauh langkahkan kaki
pijak kenikmatan semua duniawi
tersenyum bangga
kerana masih diatas segalanya
tak pernah tersedar
semua hanya sementara

Ya Allah
terangi jiwa yang dalam kegelapan
pimpim tangan-tangan rapuh ini
agar tak terulang
jatuh kelubang kenistaan
terima insafku
sebelum nafas diujung waktu


~ CINTA DALAM SUJUD KU ~



















Tak terhina dahi ini
menyentuh titik terendah bumiMu
tak terucap rasa ini
aku benar-benar memerlukanMu

Dalam fajar siddiq ...
di tengah matahari terbit
di saat sang suria paling terik
di tengah senja mulai berbisik
di dalam buaian langit berwana lurik
di waktu bulan menjadi raja cahaya berbintik
dan di waktu alam hening, tak ingin terusik

Subhana robbiyal a'la wa bi hamdih ...
MemujiMu, menundukkan sombongku
Subhana robbiyal a'la wa bi hamdih ...
Mengakui keagunganMu, menyedari kelemahanku

Dalam sujudku ...
kuaturkan hati yang mudah goyah ini
kusungkurkan tubuh yang ingin berterimakasih
kuluangkan fikiran, hanya mengingatMu dalam diri
kuungkapkan cinta yang jauh dari sempurna ini

Dalam sujudku ...
Engkau belai aku dengan ijabah dan hikmahMu
Engkau lebih dekat dari urat nadiku
Engkau tambah nikmatMu dengan sihatku
Engkau sambut aku sebagai hambaMu
Engkau jernihkan fikiranku ...,
Engkau bersihkan kerak dalam hatiku ...,
jihad, ijtihad, mujahadah ... memupuk cintaku

wa maa lana Robbana,siwaka yaa hasbana ...
dalam sujudku ...
Engkau membuatku semakin rindu

Aku ingin bersepi-sepi
kerana pada tiap-tiap sepi
kutemukan diriMU
lebih lama dari biasanya.



~ TERSENYUM SENDIRI...~
















Ku rasa ada kekosongan hati.
Ku tahu ada sepi.
Ku ingin mencurah kasih ini.
Biar mengalir tanpa henti.

Entah bila saat ketika
Menanti dia kunjung tiba.
Tempatku mengadu berkongsi kisah
Melenyap resah dan gundah.

Dia yang buatku tersenyum
Layu bunga kembali menguntum.
Dia yang buatku tersenyum
Sayang dan rindu bercantum.

Aku mencari cinta yang satu
Penawar lara kalbu.
Siapakah wajah yang mengusik?
Siapakah dia yang hadir?
Tanpa isyarat mengetuk hati.

Buat aku tersenyum sendiri

~ YAKINLAH.....Tak terlihat bukan tak teringat...~



















Meski tak terlihat
yakinlah ...
aku merindukanmu
senantiasa tertaut dalam doa-doaku
penyemangat dalam ikhtiarku
sebahagian dari sempurna agamaku
penenang hatiku yang terkadang lusuh

Meski tak terucap
yakinlah ...
aku mencintaimu
Menjaga amanah Tuhanku
Mengenalkanmu pada Tuhan dan RasulMu
Membimbing dan meneguhkanmu

Meski tak tertulis
yakinlah ...
aku memilihmu
menjadi sebahagian dari ibadahku
menjadi tanggungjawabku kepada Rabbku
ku perjuangkan dalam tiap titis keringatku

Meski tak terukir
yakinlah ...
cinta ini kan abadi
Cinta yang terikat oleh janji suci
Cinta yang dinaungi Redha Ilahi

~KU TULIS PUISI LAGI ~


















Ku Tuliskan Puisi Lagi....
Dari tempat ku menulis puisi
Ada kenangan yang masih sekelibat bayang
Seperti dekat namun ingin pergi

Dari tempat ku menulis puisi
Ada jarum jam seolah mentertawakan
Lalu menegur sambil menanyakan
'Dimana -cinta selamanya- yang dijanjikan?'

Dari tempat ku menulis puisi
Fotomu di dinding kamarku masih menghiasi
Kau menasihatiku penuh erti

Dari tempat ku menulis puisi
Ku lihat kenangan bertulis 'Aku Sayang Kamu'
Ku disimpan sebagai teman sepi
Ku ingat kau berkata
'Kau tidak sendiri'

Dari tempat ku menulis puisi
Aku masih mengingati mu
Berharap kita masih seperti dulu
Berharap kau berkata
'Akan ku usahakan semuanya untukmu'

Tapi ku tahu
Cinta adalah melepaskan apapun yang melekat padamu
Membiarkannya terbang menuju kematangan
Membiarkannya pergi mencari kebahagiaan

Lalu akan ku tulis puisi lagi
Agar hati ku tenang
Agar kau tetap di ingatan
Kerana sungguh ...
Aku ingin kau ada
Walau tidak nyata ada di depan mata.
Kenapa engkau seperti angin
tak terlihat namun terasa,
dan aku benci itu.





Monday, 23 February 2015

~ WAHAI ORANG-ORANG YANG BERSABAR…~


























“Ya Allah, ya Tuhanku! Janganlah Kau uji hambaMu yang lemah ini dengan ujian yang berat sehingga tidak mampu untukku memikulnya... 

Ya Rabbi, tolonglah hambaMu ini menjadi seorang yang kuat, sabar dan tabah dalam menghadapi dugaan hidup.

Ya Allah! Kuatkanlah hati hambaMu ini, hanya kepadaMu ku abdikan diri dan hanya kepadaMu jua ku memohon pertolongan…”


Dihentam Badai

Mungkin di saat ini, di saat orang yang membaca artikel ini sedang berada dalam samudera kesedihan dan kedukaan. Hentaman badai angin taufan ujian terus menimpa dan melanda hebat, membuatkan diri seakan bergoyang.Terasa hati tidak mampu lagi bertahan. Dugaan demi dugaan yang datang seakan menggugat rasa kekuatan iman. Buntu. Keliru. Semua perasaan sedih dan duka menjadi satu. Membuatkan dunia terasa seakan-akan berputar. Gelap.

Namun….Dalam keadaan yang sedemikian, jauh di sudut hati kecil itu masih sempat merintih. Masih ingin menagih. Tidak tersedar air mata jatuh bercucuran…Dalam keadaan itu kita terasa lelah, telah hilang segala semangat, harapan dan impian maka perlahan-lahan hati kecil itu menyeru asma agungNYA...

"Allahuakbar…Allah Maha Besar…betapa kerdilnya diri ini, diuji sedikit sudah mula mengaduh dan mengalah…"

"Subhanallah…Maha Suci Allah…betapa Engkau ingin menguji tahap kesabaran, rasa ketulusan dan keikhlasan hambaMu ini, apakah masih menyakini biarpun rasa pedih memenuhi segenap ruang hati…"


Sesungguhnya tika ini, tiada yang dapat kita rasai kecuali rasa PASRAH kepada Ilahi. Di saat ini jualah, hati kita terusik dengan rasa penyerahan diri sepenuhnya kepada kuasa yang Maha Agung.
Semuanya tertumpu kepada DIA…

Muhasabahkan Diri

Duduklah sejenak, sambil renungi dan muhasabahkan diri.Mungkin iman kita di saat ini ibarat sebuah handphone yang terlalu ‘low’ baterinya. Tetapi, kita masih punya masa untuk mengecasnya kembali.
‘Caj lah’ iman dengan perlahan-lahan bibir mengalunkan kalimah zikrullah. Itulah ubat hati yang paling mujarab tika ini…

Firman Allah Ta’ala yang bermaksud:

“Iaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingati Allah. Ingatlah! Hanya dengan mengingati Allah jualah hati akan merasa tenang dan tenteram” (Ar-Ra’du:28)

Sememangnya, kita cuma sang hamba. DIA berhak menguji dan memberi ujian selayaknya status kita sebagai hamba.Menyedari diri kita teramat lemah, maka carilah kekuatan itu kembali dengan mendekatkan diri kepada Sang Agung, Maha Berkuasa dan Maha Besar serta Maha Mengetahui segala kedukaan dan lara yang kita rasai saat ini.Renungi dan hayati di dalam kalamNya yang bemaksud:

“Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampun untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi” (Ghafir:55)

“Bersabarlah. Dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (An-Nahl: 127)

Didikan Sabar Melalui Mehnah Ujian

Sifat sabar sememangnya tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, ia tidak mencukupi hanya dengan membaca buku dan menatap kitab tentang sabar semata-mata tetapi sabar itu hanya dapat dididik dengan mehnah ujian yang DIA berikan kepada kita.

Apakah sama kita membaca dan mendengar kisah hidup orang lain yang ditimpa pelbagai musibah dan bencana dan kita kata bahawa jika kita duduk di tempatnya kita boleh bersabar sepertinya??
Tidak mungkin dan tidak mampu untuk kita berkata sedemikian melainkan kita sendiri yang apabila ditimpakan ujian tersebut, diri kita yang akan mempraktikkan sifat sabar itu.Dan sejauh mana kesabaran kita itu, hanya hati kita jualah yang mendidiknya.Apakah kita ingin berlapang dada menerima setiap dugaanNya atau semakin menyempitkan dada? Apakah kita ingin memerhati dan merenungi hikmah di sebalik ujianNya ataupun hanya ingin merintih-rintih dan mengaduh atas derita tersebut?Semuanya terpulang pada diri sendiri.

Hakikat sabar sememangnya sukar untuk diabadikan di dalam diri kecuali hanya orang-orang yang beriman, teguh dan menyakini setiap apa yang terjadi sesungguhnya semua itu datang dari Ilahi, yang ingin menguji tahap keimanan dan keikhlasan kita padaNya.

Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya:

“Tiada seorang Muslim pun yang tertimpa musibah lalu dia berkata sesuai dengan petunjuk yang diperintahkan oleh Allah, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepadaNya kami kembali. Ya Allah, berikanlah aku pahala dalam musibahku dan gantilah bagiku dengan yang lebih baik daripadanya’ melainkan Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik daripada musibahnya itu.”

(Riwayat Muslim dalam kitab Sohihnya dan bersumberkan dari Ummu Salamah r.a.)

Subhanallah.! Bukankah bersabar itu lebih baik, lebih cantik dan lebih indah sekali kerana di dalamnya terkandung penyerahan diri yang begitu tinggi kepada Ilahi.Betapa kita akur, alah dan pasrah di atas apa yang diberikan kerana hakikat diri kita cuma hamba Ilahi, yang senantiasa layak untuk diuji dan diuji…

Rahmat Di Sebalik Ujian

Firman Allah Ta’ala di dalam Al--Quran menerangkan maksud ayat:35 Surah Fussilat:

“Dan sifat-sifat yang baik itu tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar”

Seringkali kita melihat sesuatu kesusahan, kedukaan dan keperitan yang Allah berikan dengan pandangan mata zahir bahawa semua yang diberikan itu hanyalah keburukan semata-mata.Namun, jika kita melihat dengan pandangan mata hati bagi orang-orang yang bersabar dan menyakini, tiap perkara yang buruk itu sebenarnya mempunyai hikmah tersendiri dari Ilahi.Jangan dipersoalkan dan ditanya kenapa semua ini harus terjadi? Tetapi lihat, renungi dan hayatilah semua hikmah di sebalik ujian yang diberikan oleh Ilahi.Sesungguhnya tidaklah Allah menciptakan sesuatu takdiran sia-sia melainkan semuanya tersimpan rahmat yang tersembunyi di sebalik cahaya.Sepertimana yang diterangkan dalam firman-Nya yang bermaksud:

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batasan” (az-zumar:10)

 “Apa yang ada di sisimu akan lenyap dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang bersabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl:96)

Berpeganglah kepadaNya dengan seluruh jiwa dan raga. Setiap yang terjadi pasti ada rahmat yang tersembunyi. Sesungguhnya Allah amat kasih dan cinta kepada orang-orang yang bersabar serta tidak putus asa dengan rahmatNya.KalamNya menyebut yang bereerti:

“Sesungguhnya, Allah beserta orang-orang yang sabar” (al-anfal:46)

“Allah menyukai (mengasihi) orang-orang yang bersabar” (al-imran:146)

Maka, tidakkah kita ingin termasuk di kalangan mereka.??Tanya iman, didiklah hati…peganglah 'kunci bahagia!'

Kunci kebahagiaan seorang mukmin;

“Syukur apabila mendapat nikmat, Sabar apabila ditimpa musibah”

Akhirul kalam, marilah kita sama-sama mencari dan memegang ‘anak kunci’ ini kemas-kemas, berharap apabila saat kita diuji dan teruji kita tidak akan sesekali lemas dan jatuh ke jurang kelemahan iman dan kesesatan.Semoga dikuatkan hati menghadapi setiap cubaan Ilahi dan bertambah dekat pula dalam menggapai kasih dan redha Rabbi…Amin.!

Harus ada rasa bersyukur di setiap ujian yang datang

Diuji dengan tahap keimanan

Allah rindu mendengarkan rintihanmu berpanjangan

Harus ada rasa bersyukur

Di setiap ujian yang menjelma

Hanya yang terpilih sahaja yang mendapat rahmatNya

Sedang ramai yang dibiarkan dalam kelalaian

Bersyukurlah dan tabahlah menghadapi

Segala ujian yang diberi

Maka bersyukurlah selalu….!

saat hati teruji,saat air mata jatuh mengalir tanpa henti, hanya kepadMu jua ku berserah segalaNya...

























Friday, 24 October 2014

~ Kerana Itu TakdirNya..~




















Kedinginan malam membaluti tubuh. Sedingin rasa yang membaluti hati dan jiwa.
Saat ini…pilu menggayuti tangkai hati apabila teringat-ingat segala peristiwa yang berlaku.
Disulami pula oleh kehadiran bait-bait kenangan. Datang satu persatu. Seakan sebuah episode yang menayangkan satu persatu cerita.

Cerita suka dan duka antara aku dan dia. Kemudian cerita itu pun berakhir. Menjadi sebuah kisah yang lengkap.Seperti cerita filem dan drama. Beratus-rastu episode pun, ia mesti berakhir. Samada pengakhirannya hepy ending or sad story, tetap akan berakhir.

Dan pengakhiran ceritaku dengannya berakhir dengan sebuah cerita syahdu…Dalam sendu dan tawa. Dalam gembira dan air mata. Allah telah melengkapkan cerita ini. Kisah aku dan dia. Abadi menjadi lipatan sejarah hidup.

Cerita yang Allah titipkan di pertengahan perjalanan dalam musafir yang panjang.Cerita menjadi takdir. Sebuah takdir yang DIA mereka ciptakan cerita, kemudian melengkapkan untuk kami.

“Setiap permulaan pastinya ada pengakhiran. Setiap pertemuan pastinya akan ada perpisahan. Itu sudah lumrah. Jika tidak mahu mengimaninya, terserah. Jika tidak dapat menerima hakikatnya, jangan sampai iman itu menjadi parah.”

Kata-kata itu bukan untuk sesiapa, tetapi ia untukku. Biar diri lama termenung, berfikir dan bermuhasabah panjang.

Kenangan datang lagi. Terbayang-bayang di mata. Sungguh… ia sangat sukar untuk dihapuskan.

Tidak... Ku tidak berhajat untuk memadamkannya. Biarkan kenangan itu terus bergulir kerana kini ku hanya punyai kenangan itu. Sekurang-kurangnya, ku masih ada kenangan itu bersamanya.Biarpun kini jasadnya sudah terpisah dengan jasadku, jauh dan kian jauh. Sepi dan kian sepi. Namun.kenangan tidak mungkin akan terpisah dari diari hidup kami.

Terkenang-kenang lagi. Saat indah bersamanya, mana mungkin akan ia luput? Berteman. Siapa yang tidak ingin berteman dengan sejati? Kekal abadi hingga jannah Ilahi.

Tuhan…mana mungkin layak untuk ke syurgaMu, dengan keadaan diri yang penuh hina dan dosa. Namun, apabila teringatkan janjiMu, orang yang saling berkasih sayang keranaMu antara golongan yang akan duduk di bawah arasyMu kelak. Siapa yang tidak mahu?

Dan itulah yang didamba. Berukhuwah hingga ke syurga. Namun, ia bukan semudah yang dikata. Sekali lagi ku baca dan renung sepatah ayat ini dalam-dalam.

“Berukhwah hingga ke syurga”

Saat membaca kembali kisah-kisah lama yang ku postkan mengenai ukhwah. Ya, coretan-coretan kata yang aku abadikan selama berukhwah dengannya. Semua bait-bait yang terlakar itu sebenarnya kisah antara aku dan dia.
Air mata merembes kian deras di saat ku buka kembali artikel yang bertajuk;

" ku ingin masuk syurga bersamamu.!”

Allahu…benar-benar  ku tulis tulisan itu dengan hatiku begitu kuat melekat padanya. Benar-benar inginku masuk syurga bersamanya. Bukan sekadar kata-kata kosong. Tetapi itulah yang lahir tulus dari hatiku.

Kemudian, kenangan itu terhenti tiba-tiba. Kembali tersedar.Kini impian itu cuma tinggal kenangan. Dan mungkin akan berkubur sepanjang zaman.

Tidak semua mampu membawa ukhwah hingga ke syurgaNya. Kerana pastilah ada seribu hadangan yang perlu dilalui. Cerita kami juga, punya ujianNya.Begitu lama kami menyulam ukhwah ini. Ku akui, sememangnya tidak pernah sepi dari dugaan melanda.

Insaf. Ujian itu tanda kasihNya. Penguat sebuah hubungan. Selama ini kami meniti, menitinya bersama dengan hati-hati.Namun, di akhir cerita, kami tidak mampu lagi. Dan akulah yang menjadi paling lemah. Terduduk diam sepi tanpa dapat berkata-kata lagi...

Sakitnya sebuah hakikat kebenaran, tidak terperi sakitnya jika dibandingkan dengan sakit jasmaniku. Mengoyak-goyak rasa hati.Menangis mengenangkan semuanya. Sakit di dada kian berdenyut-denyut, tapi tidak lagi diendahkan. Saat itu cuma ingin menangis semahunya.


Terasa hampa dan kecewa. Saat itu, terlalu kecewa,Hati menangis hiba. Berlagu kian pilu.

Tiada siapa yang bersalah. Ku ingin imani, semuanya telah Engkau takdirkan begini. Kerana kami pun tidak pernah minta seperti ini.

Walaupun setiap hari kami berdoa untuk dikekalkan ukhwah ini. Namun, kerana Engkau telah menghendaki kami berpisah, tetap akan berpisah jua...

Ku akur. Ku ingin pasrah di atas segalanya. Ku ingin maafkan dia seikhlas hatiku, semampu ku. Maafkan hamba kerana hamba juga cuma insan biasa. Yang punyai rasa kecewa dan hampa. Tetapi ku tidak ingin terus larut dan hanyut dalam perasaan itu.

Walau apapun yang telah berlaku, walau apapun yang telah terjadi antara kami, walau apapun Tuhan, ku ingin sentiasa memaafkannya. Sebesar apapun kesalahannya, walau bagaimana besar pun luka yang tertoreh, ku ingin memaafkannya dengan sepenuh hatiku. Seikhlas mungkin.

“Tuhan. Jika Engkau lagi Maha Pemaaf, pinjamkanlah daku sedikit kemaafaan itu. Agar dengan memaafkannya, bisa terampun segala dosa-dosaku. Kerana dia juga manusia yang tidak sempurna. Aku juga sama. Tiada yang sempurna melainkan Engkau Ya Khalik.

Ku ingin ikhlas. Ku ingin redha dengan segala yang berlaku. Berikanlah daku keikhlasan dan keredhaan itu Rabbi. Agar dengannya, dapat pula ku raih redha dan cintaMu.Ku tidak sesekali ingin membencinya setelah apa yang terjadi, jauh pula ingin bermusuhan. TIDAK. Tidak pernah hadir pun perasaan itu walaupun sedikit.Kerana…jauh di sudut hatiku…ketahuilah,, ku amat menyayangimu kerana ALLAH. Hanya Cuma kerana ALLAH.

Oleh kerana rasa itu ku sandarkan sejak dari dulu lagi keranaNya, maka ku akan tetap menyayangimu. Dahulu, kini dan selamanya. Ku letakkan ia senyap-senyap jauh di sudut hatiku.
Biarpun ungkapan itu tidak lagi dapat terungkap dengan lisan seperti dahulu, tetapi kini ku abadikan ungkapan itu dalam sujud doaku pada Tuhan.

Didiklah hati. Didiklah iman, didiklah ia menjadi bunga-bunga takwa, sehingga merimbun menjadi rimbunan redha.

Subhanallah…sukar…sangat sukar…terkadang, ku juga sama… kerana rasa tidak tertahan rasa pedih dan kecewa, diluahkan juga kepada manusia. Diadukan juga pada makhlukNya.Namun, kemudian kembali tersedar, DIA yang mentakdirkan segala-galanya. DIA yang membuatkan cerita kami menjadi sedemikian rupa.

Ku akui, untuk bertemu dengan kekasih sejati amat sukar sekali. Bukan mudah. Tidak semua orang bisa memiliki kekasih sejati. Tetapi, sekurang-kurangnya aku sudah pernah memilikinya. Pernah berteman sejati dengannya.

Alhamdulillah, aku bersyukur sebenarnya. Kerana dia pernah membahagiakan aku. Pernah
membuatkan aku berasa menjadi orang yang cukup bertuah punyai seseorang yang sangat menyayangi diri ini. Masa itu. Suatu ketika dahulu.

Bersyukur dan amat bersyukur sebenarnya di atas semua yang terjadi ini. Kerana sebenarnya Tuhan ingin mentarbiyah diri.Bermuhasabah kembali. Mungkin ada kelalaian dan kealpaan kami semasa berukhwah sehingga ALLAH menjadi cemburu.

Ya, mungkin ALLAH cemburu. Kerana kasih sayang seperti apapun di antara makhluk, jangan sesekali kita terlupa bahawa kasih sayang kepada Sang Pencipta harus sentiasa diletakkan yang paling utama. Paling teratas di antara apapun.Dan mungkin selama ini kami telah terlebih kasih sehingga diuji dengan perpisahan ini. Mungkin juga pernah menjadi terlalai seketika dariNya. Semuanya mungkin.

Tuhan, Ku ingin mengerti. Tidaklah Engkau menjadikan sesuatu perkara itu sia-sia, melainkan pasti ada hikmah di sisiMu..Apa hikmahnya?? Meskipun hati tidak mampu menjawab, tetapi ku tahu suatu hari nanti KAU pasti akan singkapkan semuanya.

Pasti ada kebaikan. Meskipun ternampak buruk. Pasti ada kebaikan, meskipun di mata manusia ternampak cela. Kerana rahsia itu, hanya Engkau yang Maha Tahu, ku cuma hamba yang sangat terbatas pengetahuan tentangnya.

Tuhan.. kerana takdirMu kami berpisah. Dan ku pohon, moga dengan takdirMu jua kami bertemu dan bersama kembali. Bukan lagi di sini. Bukan lagi di dunia yang penuh kepura-puraan ini. Tetapi di sana. Di sana. Di syurga sana.

Moga di sana nanti, tiada lagi rasa hampa dan kecewa, tiada lagi duka dan nestapa, tiada lagi luka dan air mata, yang ada bahagia cuma.Semoga…semoga..dan semoga…ku cuma ingin doakan yang baik-baik sahaja kepadanya. Lantas ku aminkan ia dalam raup doaku di keheningan malam ini.

Dengan apa yang terjadi, lama mata terpejam bermuhasabah panjang… subhanallah…lama kelamaan, semakin terasa agungnya kuasaMu Tuhan…Berakhir kisah kami dengan sebaik-baik jalinan cerita dariNya. Meskipun mungkin ia boleh dikatakan ‘sad ending’…Dan buat yang terakhirnya;


“Maafkan daku. Kerana kita tidak mungkin lagi dapat bersama seperti dahulu. Maafkan daku.
Bukan ku tidak ingin memberimu peluang itu, tetapi sudah tiada lagi peluang itu buat kita.
Selama ini, DIA telah bagi kita banyak peluang sebenarnya. Dan ku telah bersyukur di atas peluang-peluang yang diberikan itu.Tapi kini, kita sememangnya harus berpisah. Jangan disoal lagi kenapa.?

Jawapanku,, Kerana itu takdirNya…” :’(

Kadang-kadang...Allah sengaja mentakdirkan kita berpisah setelah DIA menemukan kita...kerana di sebalik perpisahan itu ada erti kesabaran dan semakin bertambahnya simpulan kasih sayang dalam diam..meskipun tidak terzahir dengan mata, tetapi DIA Maha Mengetahui segalanya.Belajarlah untuk pasrah kepadaNya. Kerana jika iman menyakini, pasti akan ada yang terbaik masa depan nanti yang disediakan buat kita sebagai hambaNya...yakinilah...

semua manusia dlm alam ini hanyalah makhluk kepunyaa